A truly rich man is one whose children run into his arms when his hands are empty.
Hampa bagi saya adalah ketika saya tidak bisa berkumpul dengan keluarga. And the worst, It's my three times I cant celebrate my Dad's birthday. And you will ask me, its important for you? Yes! Really do!
Bapak bagiku adalah partner utamaku dalam hal apapun. Walaupun usianya tak muda lagi, bagiku bapak adalah sahabat sekaligus teman yang paling gampang dan nyambung diajak melakukan apapun. Bermimpi bersama, namun bermimpi realistis. Mengingatkan, menegur, mengajak dan menyemangati apa yang aku lakukan. Sebaik apapun itu.
Bapak adalah sebuah sosok panutanku. Terutama bagaimana aku memandang seorang laki-laki. Dari hal yang paling simple sampai yang paling complicated, sepertinya bapakku tahu. Teman-temanku bilang, saking dekatnya aku dengan bapakku, mereka iri kepadaku. Saya kadang juga heran, kenapa mereka tidak bisa melakukan hal yang serupa seperti bercanda, bersepeda dan bermain bersama seperti aku dan bapakku? Ya, mereka bilang, ada gap antara mereka dan bapaknya.
Ada hal yang biasanya saya tak mengerti. Semua temanku kadang menggagalkan rencana atau janji salah satu alasannya adalah "Aku ngga boleh sama bapakku" atau "Kagak boleh gw sama bokap gw cuy" atau "Yah, papaku bakal marah nanti ". Dan sedangkan diriku jarang menggunakan cara seperti itu.
Dalam hidupku, bapakku adalah orang yang berperan dan yang paling tidak berkeberatan atas segala tindakanku, terutama mengenai karir dan tujuan hidup. Di lain sisi, bapakku sangat demokratis terhadap semua keputusan yang akan saya jalani, namun di lain pihak juga, bapakku akan begitu concern atas apa yang akan saya kerjakan. Bapak adalah typical orang yang santai, banyak di segani orang dan paling tepat waktu sedunia. dan bapakku orangnya santai juga suka baca.
The Puzzle of My Footprints
story can be happened everytime, everywhere for everyone. I realize, my memories not good enough to memorize it. I do believe my brain capacity is not wide enough to remember all my memorable story I've done. So this my way, this my junction to share all my brain branch. With the power of my finger and my heart. Hope u enjoy this :)
Wednesday, May 23, 2012
Tuesday, May 22, 2012
Allah Itu Baik
Kadang saya selalu tidak terima ketika "kesialan" atau "musibah" menimpa saya hari ini. Contohnya adalah hari ini. Hari ini saya menjadwalkan untuk bisa kembali ke pulau, karena saya rasa urusan saya sudah selesai di Tahuna. Siang saya mengurusi tabungan saya di Bank. Antriannya luar biasa panjangnya. Dari urutan yang ke 64, ternyata yang di layani urutan yang ke 42. Walhasil saya tinggal keluar sebentar untuk mengurus ini itu dengan estimasi setelah kembali saya adalah antrian berikutnya. Kira-kira setangah jam saya keluar, ternyata giliran saya tak kunjung dipanggil. Malah saya harus mengantri satu jam lagi lamanya. Jujur menunggu adalah salah satu pekerjaan yang tidak bisa ditoleransi bagaimanapun bentuknya dan bagaimana pun alasannya. Yang belajar sabar lah, yang belajar menghargai lah. Ahh, insane! Pembelaan diri saja.
Oke tepat jam 12 siang giliran saya dipanggil ke teller. Tidak sampai 10 menit semuanya beres. Menyebalkan. Bahkan mengantri itu lebih lama dari pada transaksinya. Jam 12, setidaknya saya masih mempunyai waktu sekitar satu jam untuk berbenah dan pulang ke pulau. Namun, ternyata dugaan saya salah total. Setelah saya ingat dan kembali mengemasi barang, ternyata ada sesuatu yang tertinggal. Ternyata itu adalah buku tabungan saya. Entah dimana dia, yang jelas dia raib begitu saja. Mau tidak mau saya sangat kesal dan merasa sial, sehingga saya menunda kepulangan saya ke pulau dan akhirnya harus kembali ke bank dan mengurusinya. Namun ternyata respon dari bank tersebut kurang baik. Jadinya, saya tetap harus memutuskan sendiri dengan meminta bantuan dari teman dan atasan. Alhamdulilah, selesai, walau hati tidak tenang sebenarnya.
Setelahnya saya menenangkan diri dengan berdiam sejenak, telepon ibu di rumah dan ibu angkat saya di pulau dan menjelaskan kondisinya. Dan saya tersadar oleh sesuatu. Sepertinya saya di tegur Allah untuk lebih hati-hati dan tidak ceroboh. Astaghfirullahal adzim.
Pergilah saya ke warnet untuk menyelesaikan prosedur semuanya, dan berharap semuanya lancar saja. Dan ketika saya baru duduk di warnet beberapa menit, ibu angkat saya di pulau menelepon saya, bilang bahwasannya cuaca dan ombak sedang kencang. Untung saya tidak pulang. Dan benar, kemudian di Tahuna hujan mengguyur deras beserta angin. Subhanallah, sungguh Allah sayang saya. Sungguh Allah sayang saya. Tidak tahu apa jadinya kalau aku jadi pulang hari ini.
Banyak istighfar karena sudah suudzon tentang kesialan hari ini. Sungguh manusia hanya bisa berencana tapi apapun itu Allah yang menentukan. Menentukan yang terbaik tentunya bagi hambaNya. Karena Allah sesungguhnya Maha Baik.
Berharap Furi akan menjadi yang lebih baik juga. Bismillah, lebih semangat!
Selamat Menempuh Bulan Rajab, kawan..
Oke tepat jam 12 siang giliran saya dipanggil ke teller. Tidak sampai 10 menit semuanya beres. Menyebalkan. Bahkan mengantri itu lebih lama dari pada transaksinya. Jam 12, setidaknya saya masih mempunyai waktu sekitar satu jam untuk berbenah dan pulang ke pulau. Namun, ternyata dugaan saya salah total. Setelah saya ingat dan kembali mengemasi barang, ternyata ada sesuatu yang tertinggal. Ternyata itu adalah buku tabungan saya. Entah dimana dia, yang jelas dia raib begitu saja. Mau tidak mau saya sangat kesal dan merasa sial, sehingga saya menunda kepulangan saya ke pulau dan akhirnya harus kembali ke bank dan mengurusinya. Namun ternyata respon dari bank tersebut kurang baik. Jadinya, saya tetap harus memutuskan sendiri dengan meminta bantuan dari teman dan atasan. Alhamdulilah, selesai, walau hati tidak tenang sebenarnya.
Setelahnya saya menenangkan diri dengan berdiam sejenak, telepon ibu di rumah dan ibu angkat saya di pulau dan menjelaskan kondisinya. Dan saya tersadar oleh sesuatu. Sepertinya saya di tegur Allah untuk lebih hati-hati dan tidak ceroboh. Astaghfirullahal adzim.
Pergilah saya ke warnet untuk menyelesaikan prosedur semuanya, dan berharap semuanya lancar saja. Dan ketika saya baru duduk di warnet beberapa menit, ibu angkat saya di pulau menelepon saya, bilang bahwasannya cuaca dan ombak sedang kencang. Untung saya tidak pulang. Dan benar, kemudian di Tahuna hujan mengguyur deras beserta angin. Subhanallah, sungguh Allah sayang saya. Sungguh Allah sayang saya. Tidak tahu apa jadinya kalau aku jadi pulang hari ini.
Banyak istighfar karena sudah suudzon tentang kesialan hari ini. Sungguh manusia hanya bisa berencana tapi apapun itu Allah yang menentukan. Menentukan yang terbaik tentunya bagi hambaNya. Karena Allah sesungguhnya Maha Baik.
Berharap Furi akan menjadi yang lebih baik juga. Bismillah, lebih semangat!
Selamat Menempuh Bulan Rajab, kawan..
Thursday, May 17, 2012
Dia Ber-Cilia
Aku punya sahabat yang baik. Sahabatku ini tak pernah
mengeluh. Dia kokoh meski bentuknya sudah tak karuan, seakan tak terlihat
lungsuran. Dia tak pernah berontak ketika panas ataupun hujan. Dia selalu
melindungiku ketika terantuk batu, menyelematkanku dari licinnya jalan, dan
yang jelas mengamanku dari teguran guru. Aku sering mewarnainya dengan sisa
kapur di kelas, jika wajahnya menyemu, seminggu sekali memandikannya, lalu
menyematkan tali agar kembali sumringah. Aku pun gagah bersamanya. Selalu.
Sudah 4 tahun kita bersama. Banyak cerita antara kita,
senang ataupun duka. Namun, seiring dengan kondisinya yang mulai menurun, dia
sekarang jarang kuajak menemani berjalan. Dia sering ku gantungkan di tas. Aku mengajaknya
ketika dibutuhkan saja, selebihnya ku gantung lagi. Aku menyayangi dan selalu
menjaganya. Dia tak sekokoh dulu. Jelujuran ibuku sudah mengitari sekujur
tubuhnya. Tubuhnya sudah berserabut. Telapaknya sudah tak segagah dulu, sudah
sedikit aus, terkikis, akibat sering kuajak berlari ketika aku terlambat pergi,
sering kuajak mengejar ketika lonceng terdengar. Warnanya juga tak cemerlang
lagi. Walaupun aku beri kapur dan kusikat berkali-kali, bukan gagah yang
kudapati, malah semakin menyakitinya.Orang juga banyak mencibirnya dan
membicarakannya bentuknya. Bukan karena dia tidak seperti yang dulu. Bukan
karena dia tak indah lagi. Namun apa boleh buat, ukuran kita tak sama lagi. Aku
sering menahan sakit ketika berjalan bersamanya. Sampai ibuku bilang, ‘Relakan
dia, Nak. Saatnya adikmu yang menjaganya.’
-masih teringat, sepatu kanvas putih yang selalu kupakai
tiap hari Senin-Kamis di SMA-
Thursday, April 26, 2012
Being Positive or Negative or Choose to be Neutral?
My best friend said that, “nobody is fairy tale, Fur.
Everyone or everybody always do some mistakes. Even its very little mistake.”
Yap, Anggi said to me. I do agree with that. But in other my point of view,
any- some or many- people will be choose to be fairy tale rather than to be
tazmanian devil. The big point is, any – some or many – people always try to be
‘positive’ person in their daily life than being ‘negative’. I don’t know
exactly the percentage. It’s not really important for me now. I just see it
from my own experiences. Even, marriage couple, hope their test pack show the
positive blue sign, less than negative red sign, right?
Someday, my father said to me, “You should to be good and
show your positive mind in society around you.” Then, I answered, “ Why, dad?
Its kind like I’m pretending to be someone else?” Then, he answered again, “No,
daughter! Sometimes positives meant that how to respect people around you, no
matter whom she or he is, what their profession. With act like that, the
positive energy will surround you and people will respect you back. Your mind
will support to create a good attitude, smile and admirably energy.” I don’t
know exactly when our conversation going after that. I just swallow it.
Yap, I’m trying and trying to be positive, trying to always
motivated, trying to always see every problem from other side, till I find the
positive side. For example, how will you act, if you see barratry or people
doing un normal activity? Ok, it’s happened in my life now. I’m a teacher who lives in borderland, so far
away from city, but there are only 3 teachers who ‘really’ teach in class. ‘Really’
meant that the teacher doing teacher activity. But, no one teacher, teach how
to studying, learning, evaluating, gaming and teaching as well. They just come
late, and then go home early before time class to go home. In other side, the
fact is, my student who live far away come to school and face that the teacher
doesn’t teach on that day. It’s real happened. Other side again, my student is
six grade, still can’t memories all multiplication from 1 until 10. They can’t
spell their Indonesian writing as well. How they read the passage is worst.
They don’t know the function of comma, full stop, question tag, or terminology
like that. And how can they be in six grades who want to face final exam?
Insane! Still want to be positive?
Yes, I’m trying to be positive. The way is start from me. First,
being an example to other teacher with come to school on time. Second, teaching with fun method, so my
students can understand what subject I’m teaching. But, how about other class?
I still have duty to teach other class too. How can I divide my time to be fair
whether in my class and other class? How about my students who still can’t
read, count and write. Is that my duty too? I think, amoeba that has ability to
split into 2 bodies can do that, even less me. Honestly, somehow I’m tired to
be positive. My entire positive attitude doesn’t influence other teacher here.
I’m pretty sure that all of you face the same problem in your own duty, right?
The question is, are you still act like positive person?
But, I’m tired to be
like that. I’m tired pretending. I need negative. Yess, I need negative. Is
that wrong?
How can I do with negative? I can do that with jeremiad,
complaint, upside down, tell delirious story,
or so on. Negative for me doesn’t meant that I be demonstrate who destroy the
building with bombs, or being insurgent who against every decision who
unreasonable with my mind. It’s not to be like that. Being negative for me is
to fulfill my eager. Just to prove negative doesn’t wrong at all. The way to be
negative is, to tell my worried stories, share it with my friends and barked at
myself. Sometimes, I do indifferently. Something I learned after I do all I
want above is I’m feel tired too. I’m tired to be negative. And now I
understand what my father said “all your intention is effected your act.
Negative come negative, positive come positive. And everything wills you do,
either negative or positive always take a risk. that’s the law”
I agree with my father’s advises. All my activity that I do
today or tomorrow will take a risk. It’s alright, it’s true, valid. The wrong is, when u act nothing, you don’t
do anything, even planning or doing. And the big point is, even its negative or
positive it’s about how you face it, how you learn about your life, how you grow
up with your decision. It’s the process of our life, the cycle of life, right?
But sometimes, being neutral is my choice. Negative is still
negative If it comes with negative, neither with positive. But, if negative
combine with positive, it become neutral. It’s completing each other. I think
it’s better :D And now, no matter positive or negative, being right or wrong is
depend on you. You know yourself well.
But sometimes, right decision comes after we do the wrong decision.
Adopted from Paul Adren’s book, “Lets us start off on the right foot by making
some wrong decision”, hmhh I agree with this :D
Happy Thursday, everyone . Hope the negative and positive
aura come with you now J
STORY OF I
Bismillahirrohmanirrohim..
Dengan menyebut nama Allah akhirnya rilislah tulisanku yang
satu ini. Setelah sekian lama aku tidak berutak atik dengan blog ini, kembali aku
ingin menyentuhnya lagi. Kali ini tidak membicarakan siapa atau mengkritisi
siapa atau bahkan mengomentari tentang seuatu. Namun saat ini akan lebih membicarakan
tuntas tentang diriku. Dari sudut
pandang siapa?? Yap, dari sudut pandangku sendiri mendengar pendapat
orang-orang di sekitarku.
Apa yang menginspirasi bahwasannya aku harus menulis ini??
Ya, pengen narsis aja. Dulu aku berprinsip teguh bahwasannya hanya orang lain
lah yang patut menilaiku, namun kali ini akan kucoba untuk menggebrak prinsip
tersebut. Oke, aku mencoba mengerti siapa Furi itu sebenarnya. Perubahan apa
yang berhasil ia dapat dan berhasil ia kembangkan atau tingkatkan. Everything
just truly from my point of view. So, if there any same characteristic that you
disagree or similar with your thinking, just shut and read then , your comment
box will be available after you read this feed completely! Seems it’s gonna be
serious writing? Hahhaha, slow down, i will make it little fun :d
Oke, its 8 o’clock but its rain outside there. I love rain,
only rain, not the hard rain or whirling rain. Just rain. But, I sure rain always come with their own
reason. Just like me, being FURI, come out with my own reason.
Kemarin aku berjalan sendiri di tengah malam mencari listrik
untuk menghidupkan sahabat aku yang telah lama kelam. Aku membawa obor dari
pelepah kelapa dan menggendong tas lengkap dengan perlengkapannya. Takut? Dulu.
Pertama kali aku mencoba untuk mengalahkan rasa takut berjalan di tengah
gelapnya jalan dan hutan adalah sesuatu yang berat sekali. Bahkan kadang aku
harus berlari ketika mendengar suara burung malam di sekitar. Namun, sekarang
semuanya jadi biasa. Ada rasa yang membuat ada yang lebih penting jika hanya
sekedar mengalahkan rasa takut. Dan sekarang aku berjalan sendiri, diterangi
temaram malam dan dengan segala pikiran dan rencana berkecamuk di kepalaku.
Perubahan? Ya, perubahan dalam hidupku saat itu adalah Furi yang dulu sangat
malas mengurusi hal semacam begitu, dan memilih pasrah saja, sekarang bisa
mengerti bahwa the fear itself can be defeated by own intention. Aku sudah
sering mengalaminya, namun baru sekarang menyadarinya, how fool I am.
Dalam banyak cerita hidupku, dari sisi benar versus tidak
benarnya lebih banyak versi tidak benarnya atau nyeleneh menurut orang. But,
that’s me. I know everything the best I should do. Dan ketika semuanya dikira
itu aneh dan menjadi sebuah olokan tersendiri bagi mereka, aku merasa itu sah.
This my characteristic and you should respect on me, and so do I.
Dari kecil aku paling suka memakai celana, suka bermain
dengan tetanggaku yang lelaki. Bahkan aku salah satu jagoan yang suka memanjat
pohon jambu. Aku lebih suka bermain mobil-mobilan dibandingan bermain boneka.
Aku suka berteriak dan tertawa keras saat bermain petak umpet di belakang
rumah. Saat TK pun, aku paling pasif dalam menari, kata guruku gerakanku
seperti robot dan saat SD pun, kakakku yang membuatkan tugas menyulamku karena
kakakku sedih melihat hasil sulamanku yang begitu tidak teratur. Rasanya saat
itu sensor kewanitaanku tak bisa berfungsi dengan baik, apapun yang behubungan
dengan hal ‘keluwesan’ sepertinya tak berjalan. Saat karnaval pun contohnya,
aku jarang sekali mendapat peran menjadi pemakai baju adat atau ratu atau siapa
begitu. Mentoknya adalah aku menjadi seorang pemain tennis, atau menjadi
petani. Kalau dibilang sekarang, wajahku kurang foto genic. Beda dengan mbakku,
yang fotonya terpampang di rumah memakai baju adat pakaian Bali. Aku? Hanya
sebagai polisi atau atlet pemegang raket bapakku.
Kata ibuku dulu, aku dilahirkan dalam keadaan bungkus, dalam
artian bayi Furi ada di dalam suatu lapisan kandungan yang harus di belah dulu
lapisannya, baru aku keluar, dan Bapakku sangat mengharap aku adalah anak
lelakinya saat itu. Namun, ternyata Allah membentukku menjadi seorang
perempuan. Aku sangat keras kepala sejak kecil, apa yang menjadi kemauanku
harus segera dituruti, kalau tidak begitu aku akan sakit. Dan sejak kecil, aku
tidak suka disuruh atau diperintah. Apa yang aku lakukan terjadi atas kemauanku
sendiri. Aku suka mendesain. Sejak kecil aku mendesain ruangan kamarku sendiri,
aku suka menghias kamarku sendiri dengan menempelinya dengan sesuatu yang aku
suka. Aku suka menggambar, melukis, mewarna dan membaca. Dulu alasan kuat
kenapa aku mencintai gambarku adalah karena gambar bagiku adalah media untuk
mendapatkan perhatian orang tuaku. Bagaimana mereka akan menanyakan gambarku
dan apa maksudnya. Kegilaanku membaca timbul ketika aku menemukan sebuah
majalah yang di dalamnya ada gambar salah satu pahlawanku yang aku cintai
“PowerRanger” dan “Kestria Baja Hitam” di dalamnya disajikan banyak tulisan
yang membuatku untuk menyimaknya tiap bait tulisan. Dari situlah aku mulai
menabung untuk membeli majalah pahlawanku tiap minggu. Dan aku rasa, sinchan
juga melakukan hal yang sama ketika dia harus menyempatkan waktunya untuk
melihat pahlawan bertopeng.
Sejak kecil, rasa tak ingin kalahku memang sudah muncul. Aku
mempunyai adik sepupu yang satu umuran dengan usia sama dan memasuki jenjang
sekolah yang sama. Aku sedikitpun tak mau kalah dari dia. Devi, harus menjadi
yang kedua dariku. Hahaha, egois banget yaah. Tapi memang benar, aku akan
belajar sangat keras ketika dia mendapatkan suatu prestasi satu tingkat saja
diatasku. Aku dididik dengan berkompetisi namun dengan cara yang kompetitif.
Bapakku adalah my number one supporter. Bapakku sangat tahu ketika aku ingin melakukan
ini itu, dan bapakku tak pernah melarangnya sedikit pun. Mungkin watakku ini
mewarisinya. Sampai pernah suatu saat aku mengikuti kompetisi yang diadakan
oleh kantor pos, mengaransemen puisi yang diadakan oleh kantor pos, dan aku
berhasil memenangkan sebagai juara pertama tanpa sepengetahuan orangtuaku. Dan
hadiahnya adalah perjalanan dengan kereta api eksekutif kemanapun. Dan itu
adalah first time in my life. Dan even bapak ibuku dan kakakku sendiri belum
pernah mencobanya. My joy and my pleasure to remind that. That’s my historical
moment who really change my compete spirit. Hingga sampai saat ini, ketika Devi
berhasil masuk salah satu PTN dengan cara SPMB, aku yang terlalu idealis dengan
pilihanku saat itu tidak mau kalah dengan melakukan prestasi yang harus lebih
baik darinya. Hahha, walaupun akhirnya aku menyadari, tiap manusia lahir dengan
limit kehidupannya sendiri dan itu tak bisa disamakan.
Kadang sifatku yang ingin menang sendiri itu menguntungkan
sekali. Bisa dikatakan aku adalah orang yang paling pantang menyerah. Dalam
artian, semua yang aku anggap belum bisa, akan kucoba dulu sampai akhirnya ada
satu saat dimana aku akan mengatakan menyerah. Contohnya adalah dengan membuat
sulaman tadi itu. Aku akan mencobanya dulu, sampai benar-benar bisa dan
akhirnya bisa, walaupun hasilnya semburat. Its okey, aku akan mencoba dan
mencobanya lagi. Yang jelas, aku harus yang terbaik dari yang lainnya. Hahaha,
kinda of egoist person, right? Oke, other example is cooking. Yap, memasak.
Sampai saat ini, sense of cookingku masih di tahap menggantungkan diri pada
delivery order atau mending beli. Maksudnya adalah aku masih belum bisa
menemukan kenyataan kenapa kemampuan memasak benar-benar penting. Lotta people
say that, husband will love their wife, if his wife is great on cooking. In
other word, cooking is the secret receipt of happy family. Hahhaha, the
question is, am I married now? Not, yet! So, I wanna learn cooking before Im
will married. Promise. :D but for now, im quite with simple cooking, like how
to boiled water, fried rice, instant noodle. :D
Tak dipungkiri, jiwa “keramaianku ” timbul karena aku
dikelilingi oleh orang-orang bersuara keras dan ceria. Mereka adalah
keluargaku. Tidak ada istilah priyayi atau kasta mana orang tua dan mana yang
anak di kamus keluargaku. Bagi keluargaku menghormati itu sebagai batas kesopanan,
dimana kamu harus tau dan membawa diri kemana kamu akan bicara apa dan bicara
dengan siapa. Aku dan orang tuaku menggunakan bahasa Indonesia hanya untuk
konteks pembicaraan serius. Dan untuk sehari-hari aku berbicara jawa, yang
cenderung jawa biasa. Namun, orang tuaku mengajarkanku untuk belajar
“berbahasa” jika berbicara dengan orang lain. Bagiku, itu akan sangat
mengakrabkanku dengan orang tuaku. Tak jarang, banyak sahabatku yang begitu iri
tentang kedekatanku dengan bapak atau ibuku. Dan ibu bapakku tidak keberatan
dengan hal itu. Oleh karena itu, aku sering membuat suasana menjadi lucu dan
ramai di tengah teman-temanku. Satu hal lagi, aku suka membuat suasana menjadi
ramai dibanding kelu. Entah kenapa. Kadang aku benci sepi. Sepi membuatku tak
produktif. Bahkan dulu guru SMPku selalu menutup jendela dan pintu kelas yang
beliau ajarnya ketika kelasku sedang olah raga. Tanpa basa basi beliau bilang, Ini
pasti kelasnya Furi yang olah raga, tolong ditutup pintunya” dan itu sangat
terkesan sampai sekarang. Aku suka berkumpul dengan teman-temanku. Bagiku teman
adalah sebuah tempat dimana kamu bisa menumpahkan segala keinginanmu dan
kelelahanmu, namun di lain sisi teman itu bagaikan harta karun yang memang
harus dicari dan setelah menemukannya, kamu akan merasakan kebahahagiaan di
dalamnya. Itulah mengapa aku senang bertemu dengan teman-temanku, dan aku suka
untuk berteman dengan siapapun. Dan tidak dipungkiri tidak begitu kesulitan
untuk mengenal orang baru di sekitarku.
Dikenal orang yang tidak pernah diam itu susah ketika kamu
harus memilih jadi orang yang pendiam. Pendiam dalam artian, kamu mempunyai
waktu untuk berdiam diri. Jujur, aku adalah tipikal orang yang semaunya
sendiri, maksudnya, segala yang aku lakukan kadang bisa aku lakukan sendiri
tanpa ingin dibantu oleh orang lain. Aku sering belajar sendiri untuk menemukan
jawaban atas tugas yang aku cari. Aku punya plan sendiri untuk pergi kemana
menyendiri. Bahkan saat kuliah dulu, aku sering menghabiskan waktuku duduk di
KFC untuk membeli mocca float 5 ribu tapi menghabiskan hampir 6 jam di pojokan
untuk mengejerkan semuanya. Aku suka mengerjakan tugasku di kos sendiri bisa
sampai sehari penuh. Aku selalu mengumpulkan full of joy that make my spirits
rise up. Aku selalu ingin mempunyai sesuatu untuk berjalan sendiri. Bahkan aku
bisa menghabiskan waktuku di mall untuk berkeliling sendiri, menikmati jalan
dengan motorku sendiri, kemana-mana sendiri. Bagiku dengan sendiri adalah memberikan waktu
luang untkku untuk bercengkarama dengan pikiranku sejenak, merencanakan rencana
kemandirianku. Aku suka menulis, dan di tengah keinginanku berdiam diri, aku
akan menumpahkan pada tulisanku apa yang ada di pikiranku untuk diambil esensi
yang bisa diambil selama ini.
Dengan tipikal seperti itu, kadang aku merasa meminta tolong
ke orang lain untuk melakukan sesuatu itu membuang waktu. Untuk alasan tertentu
pastinya, selama itu masih aku bisa lakukan sendiri. Jadi, tidak jarang aku
bisa melakukan semuanya sendiri. Aku belajar menemukan dalam setiap hal yang
aku lakukan sendiri. Misal, tidak jarang orang melihat aku mengangkat barang
berat-berat atau menenteng barang yang berat tapi aku bisa lakukan sendiri.
Disini pun selama setahun, kadang orang heran ketika aku bisa melakukan
semuanya sendirian,persis seperti orang pulau kata mereka. Bagiku, melakukan
kegiatan sendiri itu menyenangkan.
Satu hal lagi, aku orangnya paling cepat buruk sangka dan
sering tidak percaya akan hal yang dilakukan orang lain. Itulah kenapa aku
paling ngga suka mencontek kerjaan temanku. Aku merasa kerjaanku akan lebih
baik dari itu. Aku selalu mempunyai jawaban, aku tidak suka untuk menjadi orang
yang sama dalam satu alasan. Pernah saat aku bekerja, supervisorku menanyakan
sesuatu di hadapanku langsung, “Fur, aku selalu suka dengan pekerjaanmu, tapi
kalau kamu tidak bisa luwes sedikit, suatu saat kalau kamu jadi atasan,
bawahanmu akan banyak yang mati mendadak.” Responku saat itu hanya senyum
simpul. Entah itu sarkasme atau hiperbola, yang jelas aku cuek aku. Yes, I’ll
do my best with all my best. Im not trying to be number one, but I always try
to better than one, whatever is.
Sifat lain aku adalah keterlampuan cuek dan keterlampauan
baik kadang. Banyak yang bilang, terlalu baik kadang melemahkan. Dan terlalu
cuek akan mematikan. Temanku bilang, kalau aku menjadi orang yang cuek, akan
menjadi patung yang tidak peka di sekitarku. Namun, aku merasa lebih tepatnya
aku pura-pura saja tidak peka, walau aslinya peka. Lebih pasnya adalah pura-pura
tidak tahu. Karena malas saja untuk tahu. Maka diam menjadi alasan terbaiknya.
Namun ketika datang saat dimana aku merasa orang perlu di bantu dan kewajibanku
sebagai manusia untuk membantu datang, katanya aku akan menjadi keterlaluan
baik. Is that right? Memang baik itu berbatas ya? Baik kan relatif. Bagiku
biasa saja, namun bagi orang bisa dibilang baik sekali. Kembali lagi pada prinsipku, I know what I
must do. I know the best I will do. Even it takes risk or consequences.
Pengaruh sifatku sangat berandil dalam pencapaian jati
diriku. Dulu aku sering mengagungkan cita-cita, harapan dan rencana atau tujuan
hidup. Atau istilah kerennya adalah mimpi. Aku adalah pemimpi, karena dari
mimpi yang berkolaborasi dengan segala rencaku, aku bisa berada dalam posisi
yang sekarang. Aku merasa hidupku tak lebih baik dari yang kemarin, selalu ada
hal yang tidak lebih baik dari hari kemarin, tapi aku sangat menikmatinya
sebagai jejak hidup yang aku tapaki sekarang. Dulu aku bermimpi menjadi seorang
desainer, aku bermimpi menjadi seorang arstiketur sampai aku pernah
bercita-cita menjadi menteri. Namun, sekarang aku lebih senang ketika aku bisa
menjadi apa yang telah aku raih dari rencana-rencana yang aku lakukan kemarin.
Aku selalu mensyukuri tiap jalan yang Allah berikan padaku. Every day. Because
every day, many stories happened that will be my historical moment for
tomorrow.
Sebenarnya tulisan ini ingin aku poskan saat hari kartini.
Tapi sepertinya tidak bisa, karena
banyak halangannya. Dan berharap aku bisa menjadi Furi yang selalu lebih
baik dan mencoba memperbaiki setting default yaitu “Sabar” setiap harinya. Itu
yang aku syukuri sampai sekarang.
Oh, satu lagi menjadi diri sendiri itu menyenangkan, not
pretend to be someone. Everyone was born with their own ability and characteristic,
no matter what he or she be now, the unity will be born if we can bound every
characteristic as puzzle that completing each other. Nobody is perfect, even
you or me. But everybody has own way how to complete their puzzle fragment. So,
don’t try to compare you as you with them as them. We are born with
differences, so that’s why we need someone to make it complete. Respect
everything even it doesn’t make sense, try to learn from it, and make it simple
conclusion, I think it’s the best part how we learn from how we live and life
now. And Paul Aldren say that, You are the person you chose to be J
Happy Wednesday everyone. Really need suggestion. Thanks to
read my feed J
Saturday, December 31, 2011
Telekomunikasi Tidak Terbatas pada Batas
Berbicara tentang telekomunikasi seakan tidak akan pernah habisnya. Banyak hal yang bisa didiskusikan dan butuh solusi yang tepat untuk menyelesaikannya, karena tidak bisa dipungkiri lagi telekomunikasi sekarang bagaikan baju yang harus dikenakan kemana-mana. Namun, lagi-lagi pengalaman membawa saya menilik lagi terhadap realita kehidupan telekomunikasi di Indonesia. Khususnya daerah terpencil dan perbatasan.
Salah satu teman saya, tinggal di pulau Kawio, Sangihe dan hanya butuh 3 jam saja untuk menyeberang ke Filipina, namun bagaiamana komunikasi saya dengannya disana? Di pulau itu hanya di jatah satu pulau 7 orang saja yang boleh telpon. Masih di kluster perbatasan, Pulau Matutuang, sinyal malah tidak ada sama sekali. Menghubungi teman yang disana harus melewati radio TNI pantai itupun kalau berhasil dan kenyataan menyatakan tidak berhasil. Lantas, bagaimana dengan kabar teman saya yang tidak berada di kluster perbatasan, namun letaknya jauh dari kota yang membutuhkan waktu sekitar 8 jam perjalanan laut untuk sampai di pulaunya? Cara komunikasinya bisa lewat surat yang dititipkan ke nelayan atau kalau tidak berhasil akhirnya cukup dengan doa. Ya, tepat dengan doa atau dengan ikatan batin mungkin, karena memang di Pulau Para, Sangihe, tidak ada sinyal telekomunikasi dan radio pantai TNI. Bayangkan, tahun 2011 menjelang tahun 2012 tidak ada sinyal? Tidak ada sistem telekomunikasi? Apakah memang benar telekomunikasi itu punya batas?
Melihat kenyataan yang ada, Sangihe merupakan daerah perbatasan dengan kondisi geografis kepulauan, sehingga jarak antar pulau besar dan pulau kecil-kecil di sekitarnya sangat sulit dijangkau. Kondisi kelautan dengan cuaca yang tidak menentu menyebabkan segala aktifitas yang menyangkut pemerintahan atau pendistribusian hasil panen menjadi tersendat. Gambaran umumnya seperti itu dan saya mengambil Sangihe menjadi salah satu fokus yang cocok menjadi gambar deskriptif tentang keadaan di lapangan khususnya di daerah perbatasan.
Kecewa pastinya ada, karena ternyata jaringan XL belum tersentuh di Sangihe. Namun, saya yakin dengan mengadakan kompetisi seperti ini, akan memberikan gambaran bagi XL bagaimana merealisasikan komitmennya untuk menjangkau telekomunikasi di tanah air, tanpa mengenal batas. Karena memang banyak kontribusi yang bisa diberikan XL sebagai operator penyedia jasa telekomunikasi. Salah satunya dengan membangun jaringan telekomunikasi di perbatasan dan daerah terpencil dengan memaksimalkan penyediaan pelayanannya.
Adanya pembangunan jaringan telekomunikasi di daerah terpencil dan perbatasan sangat diperlukan karena timbul adanya kebutuhan dari masyarakat. Banyaknya tantangan dan kendala yang butuh solusi, ditawarkan atas kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat. Salah satunya sarana telekomunikasi yang memudahkan. Apalagi dengan pembangunan jaringan telekomunikasi tidak akan mencakup komunikasi 2 arah saja seperti telepon dan sms, namun sekarang bisa mengadakan layanan broadband internet yang dapat dijangkau oleh penyediaan jaringan telekomunikasi itu sendiri. Hanya saja yang perlu ditekankan adalah penyediaan layanan harus berdasarkan atas keperluan masyarakat. Jangan sampai hanya membangun dan memberi, namun tanpa pengarahan, tanpa monitoring dan keberlanjutan, sebab yang ada hanya sarana yang mubadzir. Contohnya adalah seperti berikut.
Gambar 1. Bagaimana daerah terpencil dan perbatasan menjangkau kebutuhan
Hakikatnya daerah dikategorikan sebagai wilayah terpencil dan perbatasan karena kondisi geografisnya yang relatif sulit dijangkau disebabkan letaknya yang jauh atau faktor lainnya sehingga sulit dijangkau oleh transportasi maupun media komunikasi. Rata-rata dari daerah tersebut pelayanan infrastrukturnya jauh dari standar minimal. Sarana dan prasarana komunikasi, transportasi, pendidikan, dan layanan lain yang menyebabkan masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas perekonomian. Imbas dari kesulitan ini tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, namun juga akan berpengaruh pada sektor lainnya. Selain itu, pada daerah itu yang masih menggunakan cara tradisional untuk mengetahui cuaca buruk dan tidak untuk berlayar, menyebarang laut, atau hanya sekedar mengail ikan. Semuanya itu karena keterbatasan sarana dan prasarana yang ada atau juga mereka masih belum melek akan teknologi baru mengenai tanggap bencana ini. Sehingga tidak heran jika bencana terjadi bukan saja karena human error, namun karena tidak ada pemberitahuan dan waspada dini yang seharusnya bisa diatasi.
Suatu masalah baru kadang timbul dari masalah lain dan sebelumnya, yang akhirnya akan berimbas membentuk siklus masalah beruntun. Dan saking tidak sadarnya, telekomunikasi bisa menjadi solusi atas masalah-masalah itu. Banyak pernyataan atau pertanyaan yang bisa ditanggapi oleh penyedia layanan telekomunikasi dari keluhan “Coba kalau bisa telpon pasti bisa......” atau seperti ini “dengan sms saja, mungkin akan lebih gampang”. Artinya, permintaan ini muncul atas keinginan masyarakat (social accepted). Lantas, dimanakah peran operator sebagai penyedia layanan telekomunikasi? Banyak! Jika ingin dikaitkan, maka banyak sektor yang terbantu baik secara langsung ataupun tidak langsung
Gambar 2. Pembangunan Jaringan dan penyediaan layanan telekomunikasi
Hal pertama yang bisa dilakukan dalam upaya memberikan jasa untuk daerah terpencil dan perbatasan adalah dengan membangun jaringan atau BTS. Karena memang kondisinya tidak ada infrastruktur yang terbangun dan kalaulah ada jaringannya belum maksimal, jadi fitur yang ditawarkan tidak tersedia. Seperti pandangan saya tadi, untuk mewujudkan tujuan XL sebagai operator penyedia layanan jasa tanah air, sebaiknya menerapkan prinsip berorientasi pada kebutuhan masyarakat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Masyarakat perbatasan dan terpencil saya rasa sekarang butuh berkomunikasi dua arah lewat telepon dan sms. Dengan begitu mereka bisa meminimalisasi kesulitan berkomunikasi dengan kondisi yang terbatas.
Situasi konkrit yang terjadi sekarang, misalnya pada suatu hari ketika ada rapat di suatu instansi pendidikan, namun ternyata perwakilan dari daerah perbatasan ini tidak hadir, karena surat undangannya tidak bisa tersampaikan sampai hari-H kegiatan. Hasilnya, info dan hasil rapat tidak tersampaikan karena sulitnya transportasi. Akibatnya, banyak guru yang buta bahkan tidak tahu info yang sedang terjadi atau bisa jadi mereka terlambat mengetahuinya. Sebenarnya hal ini bisa diantisipasi jika jaringan telekomunikasi hadir dan memberikan layanan terbaiknya. Jadi, dari instansi tersebut hanya perlu kirim sms atau telpon saja untuk mengabarkan adanya agenda rapat. Mungkin kondisi ini sederhana, namun dampaknya akan sangat luar biasa.
Salah satu pulau tempat saya bermukim menawarkan keindahan alam yang luar biasa. Keindahan bawah laut dan hasil lautnya yang sangat menjanjikan. Namun, seakan keadaannya tidak pernah ter-ekspose di dunia luar. Juga, hasil kekayaan alam seperti cengkih kopra dan lainnya juga sangat menjanjikan, namun hanya dinikmati di pulau ini saja, atau paling jauh pangsa pasarnya hanya sekitaran daerah itu saja. Padahal bisa jadi ini menjadi salah satu komoditi yang bagus. Dengan menyediakan jaringan telekomunikasi dengan kecanggihan fitur yang sudah bagus, masyarakat bisa diperkenalkan internet untuk bisa mengenalkan daerah dan potensinya. Diberikan semacam pelatihan untuk membuat dan mengisi website pulaunya. Mengenalkan pulaunya, menjual hasil buminya, mengetahui tren pasar di luar. Selain itu, memudahkan pihak pemerintah untuk memonitor daerah ini tanpa harus datang ke pulau secara langsung tiap hari.
Layanan tanggap bencana. Ini salah satu layanan yang wajib ada untuk daerah yang rawan bencana atau daerah dengan geografis yang ekstrim. Banyak dari kita kadang hanya pasrah dengan keadaan alam yang ada karena sifatnya yang datang tak menentu. Sehingga banyak bencana yang terjadi tanpa antisipasi sebelumnya. Padahal, kecelakaan dari bencana ini banyak diminimalisir jika informasi yang tersampaikan bisa didapat dan diantisipasi sebelumnya. Penyedia layanan telekomunikasi bisa menjembatani hal ini. Dengan layanan seperti info badan meteorologi dalam bentuk website dengan koneksi cepat bisa membantu memberikan informasi dan memonitoringnya.
Pembangunan infrastruktur telekomunikasi ini harus bersifat berkelanjutan, partisipatif dan inovatif. Berkelanjutan dalam artian harus memperhatikan pemeliharaan, pemanfaatan dan pengembangan selanjutnya. Jangan sampai berkesan, asal pasang saja lantas pemeliharaannya tidak terawat.
Itulah sedikit gambaran dan bagaimana menanggapi telekomunikasi yang tidak terbatas pada batas. Tidak perlu yang terlalu canggih dulu. Adakan infrastrukturnya, berikan layanan telpon dan sms yang bagus, tarif yang tidak begitu menyusahkan. Berikan pengetahuan dan pelatihan tentang internet, lantas adakan layanannya setelah masyarakat siap. Awasi keberlanjutannya dan evaluasi terhadap kelayakan pakai di daerah terpencil dan perbatasan.
Saya yakin, walau hanya dengan memaksimalkan sms dan telepon, saya rasa teknologi ini yang tepat guna untuk masyarakat di wilayah terpencil dan perbatasan. Dengan begitu dunia telekomunikasi tidak lagi mengenal dan membedakan batas.
Oleh : Furiyani Nur Amalia
Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar
http://fhyuryi.blogspot.com/2011/12/telekomunikasi-tidak-terbatas-pada.html
Subscribe to:
Posts (Atom)

